4+ Alasan Menulis Blog dan Strategi Manajemen Waktu
Hobi menulis dan perjalanannya
- Penulis adalah profesi yang keren
Awal niatan mengikuti kelas belajar menulis blog adalah buatku seorang penulis itu sebuah profesi yang sungguh keren dan berkelas. Bagaimana sebuah tulisan bisa membawa kita ke dunia lain, ke perasaan dan momen lain yang terasa nyata. Bagaimana tulisan bisa menjadi harta kekayaan internasional dan tetap abadi sampai berabad-abad. Walau pernah juga bertemu seorang penulis yang tidak mencerminkan apa yang ditulisnya di buku-bukunya. Namun tetap saja itu profesi dan hobi yang keren.
- Hasil Tulisanku yang Cukup Baik
Meskipun begitu pengalaman menulisku masih sangat minim. Beberapa hasil tulisanku memang pernah mendapat sedikit pujian - benar-benar sedikit pujian - namun itu tetap terkenang sampai kini. Pernah saat SD diminta menulis narasi tentang karya wisata dan mendapat pujian seolah-olah pembaca ikut melihat objek wisata tersebut. Pengalaman saat SMP menulis surat kaleng yang menghebohkan kelas sampai heboh juga di kelas sebelah, dan bikin deg-degan khawatir dipanggil BP. Saat SMA menciptakan buku diari kelas yang bisa ditulis bersama dibaca bergantian dan dikomentari bergantian, seru sekali. Buku harian kelas ini sempat viral dan ditiru oleh kelas-kelas lain juga. Dan untungnya buku harian kelas itu tidak pernah ketahuan guru, lega banget. Saat kuliah tentu saja mahasiswa diminta membuat tulisan sebagai syarat kelulusan, skripsi. Walau isi masih banyak perbaikan, setidaknya paragraf-paragraf di dalamnya cukup mendapat pujian dari dosen pembimbing dan dosen-dosen penguji. Nah saat sudah ada krucil-krucil, orientasi menulis kembali terkubur, namun pernah dong sekali ikut pelatihan menulis cerita untuk anak. Tidak tanggung-tanggung pengisi materinya adalah Mbak Dian Kristiani yang buku-bukunya sudah banyak dan tulisan-tulisan di media sosialnya sangat menghibur dan membuatku menekan tombol suka.
- Keinginan belajar menulis yang selalu ada
Tapi ternyata semangat belajar menulisku tidak kunjung padam. Beberapa kali melamar jadi murid menulis klub menulis untuk anak, yang tentu saja ditolak. Pun pernah membeli buku tentang bagaimana menjadi seorang penulis, yang hanya dibaca di awal-awal buku karena terdengar sulit dan tidak menginspirasiku.
- Tulisan lebih bisa menyimpan momen dan rasa
Bagiku menulis dan membaca tulisan itu lebih seru dari menonton film adaptasi dari buku. Tulisan bisa menjadi frame untuk menyimpan momen dan rasa pada suatu waktu dan peristiwa. Tulisan bisa menjadi warisan yang tak ternilai bagi anak-anak. Tulisan bisa menjadi inspirasi dan awal perubahan bagi seseorang. Tulisan memiliki kekuatan yang bahkan bisa mengokohkan suatu bangsa atau bahkan meruntuhkan suatu dinasti. Dan tidak heran lagi begitu banyak quotes yang dibagikan dan menginspirasi banyak orang di seluruh dunia.
Banyak sekali kenangan yang ingin kusimpan dalam bentuk tulisan. Peristiwa sehari-hari yang tampak biasa namun bagiku sarat pembelajaran sehingga membuatku ingin menyimpannya untuk dibaca lagi kelak. Perjalananku membersamai anak-anak, perjalanan anak-anak menemukan sisi mereka, perjalanan keluarga kami membangun dunia kecil bahagia kami yang sayang kalau dibiarkan mengalir lalu terlupakan. Bahkan sedikit banyak opini pribadi yang gemas ingin keluar saat melihat suatu peristiwa ingin kusimpan dalam bentuk tulisan.
Lalu mengapa menulis blog, karena menulis blog adalah salah satu jalan untuk menjadi penulis. Bukan seorang penulis dong kalau tulisannya tidak pernah dibaca orang lain. Maka dari itu aku pun memberanikan diri mengikuti kelas Blogspedia Coaching dari coach Maritaningtyas. Teman-teman yang ingin tau lebih banyak tentang Blogspedia Coaching for Newbie juga boleh banget langsung jalan-jalan kesana. Penjelasannya mudah dimengerti walau praktiknya tetep aja harus rajin trial and error ☺
Tetaplah semangat diriku, karena tidak ada kata terlambat untuk belajar hal baru. Tidak terlambat pula memulai kebiasan baru yang baik, memulai menjadi pribadi yang lebih berkualitas dan menjadi orang-orang yang dirindukan keberadaannya. Untuk diriku, teruslah berusaha sampai terengah nafasku, sampai berpeluh keningku, sampai lunglai tenagaku. Karena sesungguhnya di setiap kesulitan ada kemudahan-kemudahan.
Manajemen waktu, kedisiplinan menimimalkan alasan pemakluman
Tantangan selanjutnya setelah menguatkan niat untuk menulis adalah penerapan di lapangan. Dengan kata lain, sanggupkah diriku menjalankan semua rencana dan menjadikan menulis sebagai kebiasaan baru yang perlu diprioritaskan. Baiklah akan kubuat rencana dan trik-trik menjadikan menulis sebagai kebutuhan jiwaku.1. Tentukan skala priotitas
Strategi pertama dalam manajemen waktu menghadapi kebiasan baruku adalah kerjakan tugas-tugas berdasar skala prioritas. Tentulah tugas utama seorang ibu dan istri adalah mengurus anak-anak dan suami. Termasuk di dalamnya mendampingi pendidikan anak-anak, mendengarkan curhatan, mengobrol santai, juga bermain dan berkreasi. Kebutuhan suami yang tak kalah penting adalah tampak santai dan gembira saat suami datang dan ada dirumah. Momen yang sering bikin suami ilfil adalah saat pulang ke rumah yang dilihat istri yang terlihat tidak jenak, sibuk kesana kemari sambil mengatakan perintah sana-sini. Padahal tujuan istri adalah menitipkan anak-anak setelah kebutuhan suami terpenuhi. Jadi jangan sampai tujuan utama tidak tercapai karena salah strategi di awal.
2. Multitasking setiap kesempatan
Strategi selanjutnya adalah mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Bagi ibu-ibu yang terlahir multitasking, hal ini sudah jadi kebiasaan sehari-hari, tapi kali ini perlu lebih dikembangkan lagi. Misal sekarang waktu read a load bagi baby bisa juga dibacakan materi-materi kelas online maupun bacaan referensi-referensi tulisan. Blogwalking dilakukan saat mendampingi anak-anak belajar. Bahkan memasak sambil mencari ide dan membuat kerangka tulisan.3. Kurangi kegiatan kurang bermanfaat
Kurangi kegiatan-kegitan yang kurang bermanfaat dan menyita waktu. Isi waktu-waktu yang ada dengan hal-hal yang lebih penting. Misal kurangi window shoping online shop yang heboh dengan promo-promonya. Tidak perlu membaca cerita/berita yang belum tentu kebenarannya. Dan hindari menonton film atau drama yang bahkan dari sinopsisnya saja sudah tidak menarik.
4. Alokasikan waktu khusus menulis
Strategi terakhir adalah mengalokasikan waktu khusus untuk menulis, tentunya dengan dukungan anak-anak dan suami, bahkan dukungan eyang juga diperlukan. Menemukan waktu yang tepat untukku menuangkan ide-ide ke atas kertas bisa jadi membutuhkan trial and eror , jadi harus bersabar dalam prosesnya.
Inti dari semua manajemen waktu ini adalah semangat diri untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani proses dan langkah menuju kebiasaan baru yang lebih baik. Untuk itu sekali lagi bersemangatlah wahai diriku, nikmatilah prosesnya, cintailah tantangannya dan tersenyumlah melihat hasil yang kelak engkau raih.


